Jurnal_Blog_Restrukturisasi-Perusahaan-Penjelasan-Bentuk-dan-Alasan-Penting-Melakukannya.jpg-2

Oleh Fonda Febrina, S.H.

Jurnal_Blog_Restrukturisasi-Perusahaan-Penjelasan-Bentuk-dan-Alasan-Penting-Melakukannya.jpg-2

1. Definisi dan Prinsip Kuasi Reorganisasi

Kuasi reorganisasi adalah istilah yang lebih mengacu pada terminologi akuntansi daripada terminologi hukum. Untuk lebih memahami konsep kuasi reorganisasi, sejumlah makna akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Kuasi (Kuasi)

Kuasi adalah kata Latin yang sering digunakan dalam Hukum Perdata dan sering digunakan sebagai awalan dalam Bahasa Inggris.

2. Reorganisasi / Reorganisasi / Restrukturisasi

Reorganisasi memiliki arti yang sama dengan restrukturisasi. Reorganisasi dapat dilakukan melalui merger atau konsolidasi dengan menukar saham dengan hak suara suatu perusahaan dengan saham perusahaan lain, atau dengan menukar saham dengan hak suara suatu perusahaan dengan aset perusahaan lain. Reorganisasi juga dapat dilakukan dengan mentransfer sebagian atau seluruh aset perusahaan ke anak perusahaan lain, dan kemudian saham akan didistribusikan.

Reorganisasi juga melibatkan rekapitulasi, atau dengan mengubah identitas, bentuk, atau tempat usaha suatu perusahaan. Reorganisasi dalam hal kebangkrutan dapat dilakukan dengan mentransfer aset perusahaan ke perusahaan lain. Sementara itu di Kamus Keuangan dan Investasi, reorganisasi ini selaras dengan pemahaman tentang restrukturisasi keuangan perusahaan ketika akan bangkrut. Jika dilihat dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam reorganisasi yang disebabkan oleh Penggabungan, penjualan saham yang kemudian diikuti oleh likuidasi akan memerlukan persetujuan pemegang saham yang lebih dari sekedar keputusan Dewan Direksi. Ini penting dan sangat diperlukan karena reorganisasi adalah tindakan yang menghasilkan perubahan yang sangat mendasar atau dapat dikatakan bahwa reorganisasi adalah tindakan yang memiliki efek perubahan yang sangat mendasar dalam perusahaan.

Ketika kita berbicara tentang restrukturisasi itu memang dilakukan dengan tujuan upaya penyelamatan, terutama bagi perusahaan yang akan bangkrut. Dalam Kamus Akuntansi yang dibuat oleh Slamet B. Noor juga menyebutkan hal serupa, yaitu:

Reorganisasi juga mencakup perbaikan seluruh struktur modal yang harus dilakukan karena badan usaha yang bersangkutan jelas-jelas dalam keadaan tidak terpecahkan atau ada ancaman kepailitan, yang perubahannya dimaksudkan agar entitas bisnis selanjutnya dapat bekerja dengan fondasi pembentukan keuangan yang lebih kuat .[1]

Dia juga menyebutkan bahwa jika reorganisasi ini ditafsirkan secara luas, itu akan mencakup perubahan dalam bentuk hukum atau perubahan dalam saldo atau pengaturan tertentu, baik mengenai struktur organisasi dan struktur modal perusahaan.[2]

3. Kuasi Reorganisasi

Kuasi reorganisasi sebenarnya harus diungkapkan oleh perusahaan dan juga harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Kuasi reorganisasi diterapkan sebagai alternatif bagi perusahaan menghindari kebangkrutan atau kebangkrutan karena penurunan nilai ekuitas perusahaan itu sendiri.

Keberadaan Bapepam dalam hal ini mendefinisikan kuasi reorganisasi sebagai reorganisasi tanpa melalui real atau reorganisasi reorganisasi sejati atau restrukturisasi perusahaan yang dilakukan dengan menilai kembali aset dan liabilitas pada nilai wajar dan menghilangkan saldo laba negatif.[3] Berdasarkan definisi kuasi reorganisasi, dapat disimpulkan bahwa kuasi reorganisasi mencakup penilaian aset dan liabilitas. Ada juga hasil akhir dari penilaian aset dan kewajiban. Dan melalui definisi ini menekankan bahwa kuasi reorganisasi berbeda reorganisasi sejati atau restrukturisasi perusahaan. Dalam reorganisasi sejati akan ada aliran dana yang nyata, misalnya kemungkinan mengubah kewajiban menjadi ekuitas, mengubah tanggal jatuh tempo dan tingkat bunga kewajiban, mengurangi tunggakan bunga, atau menunda pembayaran, mengubah kelas saham, atau menyuntikkan dana segar dalam bentuk modal saham dan / atau kewajiban. Seperti halnya kuasi reorganisasi aliran dana riil seperti itu tidak ada karena revaluasi aset dan liabilitas. Aset dan liabilitas dinilai dalam konteks nilai wajar, serta penghapusan defisit, defisit dieliminasi dalam estimasi ekuitas lainnya. Menghilangkan defisit untuk estimasi ekuitas lainnya tidak memerlukan arus kas tambahan selama total ekuitas sebelum reorganisasi kuasi yang positif. Dengan demikian, istilah kuasi dalam ruang lingkup Kuasi Reorganisasi bertujuan untuk membedakannya dari restrukturisasi ekuitas aktual yang dilakukan dengan penambahan modal disetor.

2. Korelasi Antara Kuasi Reorganisasi dan Restrukturisasi Perusahaan

Jika dilihat dari penjelasan yang dikemukakan oleh Jan Hoesada dan Gunadi mengenai restrukturisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa Kuasi Reorganisasi sebenarnya adalah bentuk restrukturisasi ekuitas.

Juga dinyatakan oleh Jan Hoesada bahwa restrukturisasi ekuitas yang sebenarnya (nyata) dapat dilakukan dengan restrukturisasi hukum, pembekuan operasional, tidak aktif, likuidasi, pembubaran, privatisasi, go public atau bersifat pribadi, merger, konsolidasi, berputar, restrukturisasi keuangan.[4]

Dalam kuasi reorganisasi tidak ada arus kas masuk, biaya yang diperlukan dalam proses Kuasi Reorganisasi relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk melakukan reorganisasi nyata atau restrukturisasi.[5] Namun demikian kuasi reorganisasi dapat berdiri sendiri atau disertai dengan restrukturisasi perusahaan, dengan masuknya investor baru. Misalnya, jika dalam kuasi reorganisasi yang pada akhirnya membukukan tambahan modal disetor dan modal saham tidak mampu menyerap defisit, maka reorganisasi sejati dengan meningkatkan modal disetor harus dilakukan.

[1] Slamet B. Noor, Kamus Akuntansi, cet. 5 (Jakarta: Financial Magazine, 1998), hlm. 331.

[2] Slamet B. Noor, Kamus Akuntansi, cet. 5 (Jakarta: Financial Magazine, 1998), hlm. 331.

[3] Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Peraturan No. IX.L.1), Peraturan Nomor IX.L.1 tentang Prosedur untuk Menerapkan Kuasi Reorganisasi. Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No: Kep-16 / PM / 2004, 13 April 2004.

[4] Jan Hoesada, Akuntansi Kuasi Reorganisasi, (Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia, 2004), hlm. 1-5.

[5] Harnanto, Akuntansi Keuangan Menengah – Buku Dua (Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM, 2003), Hal. 258.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here